MS #12 : Baktiku Padamu


Imam Abu Hanifah adalah ulama yang paling masyhur di zamannya. Bahkan beliau termasuk ulama dari empat mazhab. Muridnya tidak hanya dari Kota Kuffah, melainkan juga dari berbagai penjuru negeri.

Namun, tatkala berada di rumah, beliau hanyalah seorang anak yang sangat penurut, bukan ulama besar. Beliau juga sering mendapat teguran dan nasihat dari ibundanya.

Menariknya lagi, kendati beliau adalah ulama yang paling faqih, namun ibundanya tidak mau mendengarkan fatwa dari beliau, dan lebih memilih bertanya kepada ulama lain, yang secara kefaqihan, kealiman, kekuatan hafalan berada di bawah kemampuan puteranya, Imam Abu Hanifah.

Pada suatu hari, sang ibunda mendapati permasalahan dalam agama. Beliau kemudian bertanya pada puteranya. Imam Abu Hanifah pun memberikan fatwa berdasarkan ilmunya.

Namun rupanya sang ibunda tidak cukup puas dengan fatwa yang diberikan puteranya. Si ibunda berkata, “Aku tak mau mendengar kata-katamu. Aku hanya percaya pada fatwa Zur’ah Al-Qash. Sekarang juga antarkan aku ke rumahnya”. Padahal Zur’ah Al-Qash sendiri adalah murid Imam Abu Hanifah.

Namun coba tebak, apa yang dilakukan ulama kita ini?

Beliau sama sekali tidak kesal dengan sikap ibundanya. Sang imam justru menggamit tangan sang ibunda untuk diantarkan ke kediaman Zur’ah Al-Qash.

Bukankah ini pemandangan yang lucu, seorang guru dari para ulama, justru mendatangi ulama lain yang ilmunya jauh di belakangnya untuk meminta sebuah fatwa.

Tetapi, beliau dengan sangat patuh, tidak merasa gengsi maupun keberatan sedikit pun, memenuhi permintaan sang ibunda.

Saat ditanya, Zur’ah pun merasa keheranan. Bagaimana bisa, gurunya yang mengajarkan perkara ini justru datang meminta rujukan fatwa.

Dengan lembut beliau, Imam Abu Hanifah menjawab, “Ibuku hanya mau mendengar fatwa dari Anda.”

Imam Abu Hanifah lalu berbisik pada Zur’ah, “Berilah fatwa kepadanya demikian (ia menyebut fatwa yang ia berikan pada ibunda sebelumnya).”

Lalu, Zur’ah pun memberikan fatwa yang bunyinya sama persis dengan yang Abu Hanifah katakan. Namun ibunda baru merasa puas setelah mendengarnya dari lisan Zur’ah. Padahal sebetulnya fatwa tersebut merupakan hasil ijtihad dari puteranya sendiri, Imam Abu Hanifah.

Di hari-hari lain, sang ibunda meminta putranya mendatangi majelis ilmu untuk menanyakan persoalan agama. Dengan segera beliau mendatangi majelis Umar bin Dzar.

Umar keheranan dan bertanya, “Tuan, Anda-lah ahlinya. Kenapa harus bertanya kepada saya?” Sang Imam menimpali, “Yang pasti hukum membantah orang tua adalah dosa besar”. Umar bin Zar pun mengerti. Beliau kagum dengan ketaatan Imam Abu Hanifah kepada ibundanya.
________
Masyaa Allah.

Betapa luar biasa bakti Imam Abu Hanifah kepada ibundanya. Meskipun sang imam memiliki ilmu yang lebih tinggi, hafalan yang lebih kuat, kefaqihan, kealiman. Beliau adalah ulama masyhur di zamannya, muridnya berdatangan dari penjuru tempat untuk meminta fatwa.

Namun, beliau sangat faham. Jika di hadapan ibunya, beliau tetaplah seorang anak yang wajib berbakti.

Beliau tahu bahwa sang ibunda tidak mau mendengar fatwanya, lalu beliau dengan patuh melaksanakan apa yang diperintahkan ibunya yaitu menanyakan persoalan agama kepada ulama yang diinginkan ibunya. Meski sebetulnya ulama tersebut juga mengambil fatwa dari ijtihad Imam Abu Hanifah, puteranya sendiri.

Maka sebetulnya, kisah beliau ini adalah teladan bagi kita semua untuk senantiasa berbakti terhadap orang tua selagi tidak dalam kesyirikan, kemaksiatan, dan kemungkaran.

Seperti hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam,
“Aku bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya).’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’
[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 527), Muslim dalam Kitabul Iman (no. 85), an-Nasa-i (I/292-293), at-Tirmidzi (no. 173), ad-Darimi (I/278), Ahmad (I/351, 409, 410, 439)].

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu.” [Al Isra/17`: 23].

Maka, menjadi kesempatan bagi kita. Bagi yang masih memiliki kedua orang tua, berbaktilah kepada keduanya dan jadilah penyejuk mata keduanya. Ridha Allah terletak pada ridha orang tua, murka Allah terletak pada murka orang tua. Dan bagi yang keduanya atau salah satu orang tuanya telah tiada, jadilah anak yang sholih dan sholihah, dan doakanlah untuk kebaikannya di akhirat.

Saat aku duduk bersama Rasulullah, tiba-tiba ada seorang lelaki dari kaum Anshar yang datang dan bertanya: “Wahai, Rasulullah! Apakah masih ada (perkara) yang tersisa yang menjadi tanggung jawabku berkaitan dengan bakti kepada orang tuaku setelah mereka berdua meninggal yang masih bisa aku lakukan?” Nabi menjawab: “Betul. (Yaitu) ada empat hal: engkau do’akan dan mintakan ampunan bagi mereka, melaksanakan janji mereka, serta memuliakan sahabat-sahabat mereka, juga menyambung tali silaturahmi dengan orang yang ada hubungannya dengan ayah ibu. Inilah (kewajiban) yang masih tersisa dalam berbakti kepada orang tuamu setelah mereka meninggal”. [HR Abu Dawud dan Ahmad].

Menjadi pertanyaan, apabila ada seorang yang mengaku muslim, tapi tak ada akhlaq kepada orang tuanya. Merasa lebih pintar, malu dengan kondisi orang tuanya, bertingkah seperti majikan kepada pembantunya, tidak merawatnya ketika di hari tua, menyakiti hatinya.dan lainnya. Jangan mendurhakainya, karena durhaka kepada keduanya termasuk dosa besar. Dosa yang balasannya tak hanya di akhirat, tapi juga di dunia. Hidupmu tak berkah.

“Semua dosa akan ditangguhkan Allah Subhanahu Wata’ala sampai nanti hari kiamat, kecuali durhaka kepada kedua orangtua, maka sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala akan menyegerakan balasan kepada pelakunya di dunia sebelum meninggal.” (HR. Hakim)

Karena bagi muslim, orang tua adalah aset. Aset kebaikan dunia dan akhirat. Saking pentingnya, bahkan jika orang tua berbeda keyakinan dengan kita, kita tetap berkewajiban berakhlaq mulia kepada keduanya, taati perintahnya selama tidak menyelisihi aqidah.

Terus berbakti, senantiasa mendo’akan keduanya, perbaiki diri dan keluarga. Semoga Allah izinkan, kita sekeluarga masuk syurga.

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiraa

Wallahu a’lam.

Referensi:
– Hanifa, Afriza. 2018. Kisah Bakti Imam Abu Hanifah dan Kelucuan Ibunda.
http://www.muslimahdaily.com/…/1562-kisah-bakti-imam-abu-ha…. Diakses pada Senin, 24 Desember pukul 11.30
– Rohani, Edi. 2018. Saat Diam Menjadi Emas: Kisah Teladan Penggugah Jiwa. Jakarta: Guepedia Publisher.

©Fajr Studio
Masjid Mardliyyah UGM

Ikuti akun Masjid Mardliyyah UGM:
🖥 facebook.com/FOSDAMMrdliyyah/
🎥 youtube.com/c/MasjidMardliyyahUGM
📷 instagram.com/mmardliyyahugm/
🎙 t.me/mmardliyyahugm
📲 line.me/R/ti/p/%40nsb2585g
🌐 mardliyyahugm.com
📞 081225334282

#MenjedaSejenak #MMmenjedasejenak #FajrStudio #MasjidMardliyyahUGM #desember2018 #birrulwalidayn #berbaktikepadaorangtua #liburan #qualitytime #familythebest #indonesiabertauhid #inkscapefordawah #motivasiIslam #nasehat #posternasehat #flatdesign #graphicdesign #design #illustration

Posted in Artikel Fajr Studio, Menjeda Sejenak and tagged , , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *