MS #13 : Menghargai Waktu


Diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata,
“Seandainya saja al-Qur’an tidak diturunkan, niscaya satu surah ini cukup menjadi petunjuk manusia. Karena di dalamnya terkandung seluruh pesan-pesan al-Qur’an.”

Surah yang dimaksud Imam Syafi’i adalah Surah Al-Ashr yang mana Allah bersumpah atas waktu. Jika Allah telah bersumpah atas sesuatu, berarti sesuatu itu adalah hal yang sangat penting dan perlu untuk kita perhatikan. Dalam konteks ini adalah waktu.

Selain itu, Allah juga bersumpah dalam beberapa waktu yaitu Demi Dhuha, Demi Fajar, Demi Shubuh, Demi Malam cukup menunjukkan betapa Allah ingin menekankan kepada manusia mengenai pentingnya waktu.

“Wahai Manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.” Begitu kata Hasan Al Bashri. Sehingga setiap satu hari berlalu, berlalu pula sebagian dari umur manusia di dunia ini.

Maka, sebetulnya momen ulang tahun bukanlah momen hura-hura untuk perayaan atas bertambahnya umur melainkan berkurangnya jatah umur di dunia.

Banyak sekali kisah umat terdahulu yang dapat kita teladani utamanya dalam menghargai waktu. Salah satunya kisah Imam Sulaim Ar Razi seperti yang diceritakan oleh Muammil bin Hasan. Bahwa suatu hari, ia melihat pena milik Sulaim Ar Razi rusak dan tumpul, ketika beliau memperbaiki penanya tersebut terlihat beliau menggerak-gerakkan mulutnya. Rupanya beliau tengah membaca Al-Qur’an disela-sela kegiatannya. Tujuannya agar waktu beliau tidak terbuang sia-sia.

Satu lagi kisah teladan datang dari Amir bin Abdul Qais rahimahullah melewati orang-orang pemalas. Mereka duduk berbincang ngalor-ngidul, lalu menyapa Amir, “Kemarilah, duduklah bersama kami”. Amir menjawab, “Tahanlah matahari agar ia tidak bergerak, baru saya akan bergabung duduk-duduk dan berkelakar bersama kalian.”

Dan masih ada banyak kisah-kisah teladan dari para salafush shalih mengenai pentingnya menghargai waktu.

Mereka, para salafush shalih betul-betul mengamalkan ayat Allah. Mereka tahu Allah telah memberikan peringatan dengan bersumpah atas nama ‘waktu’ dan orang-orang yang merugi karenanya.

Berikutnya, Allah berikan pengecualian. Bahwa yang tidak termasuk dalam golongan orang-orang merugi ialah
1).Orang beriman,
2).Orang yang beramal shalih,
3).Orang yang saling menasehati dalam kebenaran,
4).Orang yang saling menasehati dalam kesabaran

Maka, mereka memohon kepada Allah agar usia mereka penuh keberkahan. Dan membuktikannya secara sungguh-sungguh dengan mengisi setiap detik waktu dengan hal-hal bermanfaat.

Ada sebuah nasihat menarik dari Imam Hasan Al Banna mengenai waktu. Beliau berkata, “Sesungguhnya kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang tersedia.”

Sehingga, sangat perlu untuk memakai skala priotitas dalam menentukan aktivitas mana yang akan kita jalani dan dapat mendatangkan maslahat paling besar. Yang kemudian kita mengenal bahwa urusan itu ada yang penting & mendesak, tidak penting tapi mendesak, penting tapi tidak mendesak, dan tidak penting & tidak mendesak.

Selain itu dalam kaidah 10 Muwashafat yakni 10 kepribadian ideal yang minimal dimiliki oleh setiap muslim terkandung di dalamnya Haritsun ‘ala Waqtihi tentang manajemen waktu.

Allah swt telah memberikan kita waktu 24 jam dalam sehari. Maka, kita harus menggunakannya seoptimal mungkin untuk senantiasa mengisinya dengan ketaatan.

Jangan sampai kita tertipu, berlarut-larut dengan aktivitas yang sia-sia: seperti hura-hura, memperturuti hawa nafsu, bahkan beramal tanpa dilandasi ilmu termasuk perbuatan sia-sia. Ini sama dengan membuang-buang waktu dan tenaga. Padahal tanpa sadar manusia telah “disembelih” olehnya.

Menurut pepatah Arab, “Waktu laksana pedang, bila engkau tak menggunakannya untuk menebas, ia akan menebasmu.”

Ikhwah fillah, mari kita melihat kembali waktu yang kita miliki. Apakah 24 jam dalam sehari yang Allah berikan kepada kita, sudah betul-betul dimanfaatkan dengan sebaik mungkin?

Mari kita istighfari diri !
Sudah berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk hal yang sia-sia dan sepele?

Berapa banyak momentum kebaikan yang terlewat tersebab kita tak pandai mengolah dan mengatur waktu?

Semoga kita termasuk hamba-Nya yang mendapat petunjuk memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat. Aamiin.

Wallahu a’lam.

Referensi:
● Hasyim, Inayatullah. 2011. Taddabur Al-Qur’an: Surah Al-‘Ashr. https://www.dakwatuna.com/2011/08/22/13904/tadabbur-al-quran-surah-al-ashr/amp/. Diakses pada Senin, 31 Desember pukul 17.00
● Nurrachman. 2012. Memaknai Sang Waktu. https://www.dakwatuna.com/2012/08/30/22577/memaknai-sang-waktu/amp/. Diakses pada Senin, 31 Desember 2018 pukul 17.30

©Fajr Studio
Masjid Mardliyyah UGM

Ikuti akun Masjid Mardliyyah UGM:
🖥 facebook.com/FOSDAMMrdliyyah/
🎥 youtube.com/c/MasjidMardliyyahUGM
📷 instagram.com/mmardliyyahugm/
🎙 t.me/mmardliyyahugm
📲 line.me/R/ti/p/%40nsb2585g
🌐 mardliyyahugm.com
📞 081225334282

#MenjedaSejenak #MMmenjedasejenak #FajrStudio #MasjidMardliyyahUGM #januari2019 #qualitytime #keberkahanwaktu #menejemenwaktu #tauhid #indonesiabertauhid #inkscapefordawah #motivasiIslam #nasehat #posternasehat #flatdesign #graphicdesign #design #illustration

Posted in Artikel Fajr Studio, Menjeda Sejenak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *