MS #14 : Belajar Sepanjang hayat


Masih ingat? Do’a yang sering kita untai sebelum memulai untuk belajar

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku” (QS.Thaha:114)

Menjadi pelajaran bagi kita dari ayat tersebut adalah jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki. Karena saking luas dan tak terbatasnya ilmu.

Semakin kita belajar, semakin kita paham, semakin kita tahu bahwa ilmu yang kita miliki sangat sedikit, bahwa banyak hal yang belum kita ketahui.

Allah swt menggambarkan ilmu Allah dalam ayatnya,
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya kalimat Allâh tidak akan habis ditulis.” [Luqmân/31:27]

Banyak sekali keutamaan jika kita menuntut ilmu

Sabda Rasulullah saw,
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)

Di ayat lain Allah pun menggambarkan,
“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Q.S Mujadilah: 11).”

Jika membaca hadits dan ayat-ayat tentang keutamaan ilmu, maka semestinya sudah lebih dari cukup untuk membangkitkan motivasi dan menyadarkan kita untuk tidak menyia-nyiakan barang sedetikpun.

Mencari ilmu oleh para ulama disetarakan dengan jihad fi sabilillah. Sabda Rasulullah saw,
“Barangsiapa keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali.” (HR Tirmidzi no: 2323, Ibnu Majah no: 4112. At Tirmidzi berkata: ‘Hadits ini hasan gharib’).

Abu Darda sampai mengatakan, “Barangsiapa mengatakan bahwa mencari ilmu itu bukan jihad, maka orang itu tidak menggunakan akal.”

Ada hal menarik dari hadits At-Tirmidzi tersebut, bahwa ada seseorang yang datang dari Madinah ke Damaskus untuk bertemu Abu Darda. Orang tersebut bukan untuk bersilaturahmi, melainkan mengonfirmasi hadits “man salaka thoriqon”. Setelah mendapat sebuah jawaban dari Abu Darda, orang tersebut pulang.

Betapa agungnya amalan menuntut ilmu dan betapa besar ganjaran yang Allah berikan bagi para penuntut ilmu. Yakni sebuah jaminan kemudahan untuk masuk surga. Masyaa Allah!

Kalau Allah memberikan garansi se-‘wah’ itu, maka semestinya kita bersegera menyambutnya dengan upaya terbaik dan bukan cuma sekadar biasa saja atau malah ala kadarnya. Astaghfirullah!

Fokus dalam menuntut ilmu menjadi poin penting. Ada kisah dari Yahya bin Yahya, salah satu murid Imam Malik yang datang dari Andalusia ke Madinah. Sewaktu mereka sedang belajar, tiba-tiba ada gajah yang lewat. Sontak semua murid keluar untuk melihat gajah tersebut. Namun, Yahya bin Yahya tetap bergeming di kursinya hingga Imam Malik bertanya, “Kamu kenapa gak keluar?” Yahya bin Yahya menjawab dengan simpel, “Saya jauh-jauh dari Andalusia, Spanyol ke sini bukan untuk lihat gajah.”

Fokus membuat kita lebih mantap dalam menuntut ilmu, tidak tercampur dengan hal-hal lain. Sehingga, niat dan tujuan kita akan tetap lurus.

Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid Nada dalam kitabnya Al-Adab Al-Islamiyah menuturkan secara tegas bahwa, “Ilmu adalah petunjuk amal, maka tidak akan baik suatu amal kecuali dengan ilmu”.

Allah pula berfirman:
“Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu”. (QS. Muhammad [47]: 19).

Maka, sangat wajar jika menuntut ilmu di dalam Islam menjadi wajib hukumnya, sejak dari buaian sampai ke liang lahat. Karena ilmu adalah syarat dan kunci kebahagiaan baik di dunia dan di akhirat.

Seperti yang dikatakan oleh Imam Syafi’i,
“Menuntut ilmu lebih utama daripada shalat sunnah. Beliau berkata: Tidak ada amalan setelah amalam fardhu yang lebih utama daripada menuntut ilmu. Dan beliau juga berkata: Barangsiapa yang menginginkan (kebahagian) dunia hendak lah dengan ilmu barangsiapa yang menginginkan (kebahagian) akhirat hendaklah dengan ilmu.”

Jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki.

“Janganlah engkau senang bila sudah banyak mengetahui ilmu dunia, tapi belum banyak mengetahui ilmu akhirat. Dengan kata lain, bagaimana mungkin engkau merasa nyaman ketika tidak mengetahui aturan agama tentang tata cara ibadah, padahal engkau tidak merasa nyaman ketika engkau tidak mengetahui pandangan ilmu pengetahuan dalam masalah-masalah duniawi?” ― Syaikh Fuad Shahih

Selama kita hidup, selama itu pula kita akan terus, terus dan terus belajar!

Referensi:
● Admin. 2017. Bahaya Merasa Cukup Dengan Ilmu. https://khazanahalquran.com/bahaya-merasa-cukup-dengan-ilmu.html/amp. Diakses pada tanggal 8 Januari 2019 pukul 12.55 WIB
● Syamhudi, Kholid. 2012. Hakikat Ilmu. muslim.or.id/9888-hakikat-ilmu.html. Diakses pada Senin, 7 Januari 2019 pukul 21.10

©Fajr Studio
Masjid Mardliyyah UGM

Ikuti akun Masjid Mardliyyah UGM:
🖥 facebook.com/FOSDAMMrdliyyah/
🎥 youtube.com/c/MasjidMardliyyahUGM
📷 instagram.com/mmardliyyahugm/
🎙 t.me/mmardliyyahugm
📲 line.me/R/ti/p/%40nsb2585g
🌐 mardliyyahugm.com
📞 081225334282

#MenjedaSejenak #MMmenjedasejenak #FajrStudio #MasjidMardliyyahUGM #januari2019 #longlifelearner #muslimsejati #menuntutilmu #tauhid #indonesiabertauhid #inkscapefordawah #motivasiIslam #nasehat #posternasehat #flatdesign #graphicdesign #design #illustration

Posted in Artikel Fajr Studio, Menjeda Sejenak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *