MS #18 : Amalan Terbaik


“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67]: 2)

Makna ahsanu amala menurut Fudhail bin ‘Iyadh ialah amalan yang dilakukan dengan ikhlas dan benar. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima. Sebaliknya, jika ia benar, tetapi tidak ikhlas maka amalnya juga tidak diterima. Ikhlas yakni semata-mata amal tersebut karena Allah, sedang amal yang benar adalah sesuai dengan sunnah Rasulullah.

Dalam Islam, kita dituntun untuk tidak sekadar memerhatikan seberapa banyak amal yang dilakukan melainkan seberapa berkualitas amalan yang kita kerjakan. “Ahsanu amala”, bukan “aktsaru amala.” Hal paling baik amalnya, bukan yang paling banyak amalnya.

Kuncinya jangan pernah meremehkan kebaikan walau sekecil apapun. Karena, boleh jadi, amalan kecil itu adalah amal terbaik sepanjang hidup kita yang mampu menghantarkan pada surga. Akankah lebih baiknya jika kita selalu berusaha menjaga dan berdoa agar amal shalih yang kita lakukan juga berbuah ahsanu amala.

Mengenai hal itu, Rasulullah juga memerintahkan kita untuk jangan berhenti berbuat baik. Ditambah dengan larangan melakukan hal-hal yang mampu merusak amalan tersebut, seperti berbuat riya’, bersikap sombong, dan bermaksiat ketika sendirian. Kita tidak pernah tahu apakah seluruh amal baik kita akan diterima.

Dengan demikian, kita senantiasa dianjurkan untuk menyikapinya dengan dua hal. Pertama, dengan sikap takut (khauf) pada Allah jika amal shalih kita tidak diterima. Kedua, sikap berharap (raja’) pada Allah yang memotivasi dan membentuk tekad untuk terus beramal sebaik mungkin.

Oleh karena itu, marilah kita menjadi orang yang cerdas versi Rasulullah. Bagaimana cerdas versi Rasulullah? Yaitu “Orang yang paling banyak dalam mengingat mati dan paling siap menghadapinya…” (HR at-Tirmidzi).

Orang yang demikian adalah mereka yang senantiasa memperhitungkan amal-amalnya sebelum datangnya hari perhitungan, ketika Allah akan memperhitungkan amal-amalnya di akhirat kelak.

Merasa cemas akan nasib dirinya kelak. Merasa belum cukup memiliki bekal untuk perjalanan yang panjang (akhirat) sehingga ia selalu memandang peluang kebaikan seolah-olah itu adalah amalan terakhir yang ia lakukan. Sebab, Allah menjadikan kematian sebagai hal yang rahasia dalam hidup ini.

Dengan demikian, kita akan termotivasi untuk selalu berusaha mempersembahkan amalan terbaik di sepanjang hayat kita dan segenap keikhlasan kepada Allah. Dengan segenap ikhtiyar untuk mengerjakan sesuai dengan tuntunan Nabi.

Maka, siapa yang tak ingin bila pulangnya adalah sebaik-baik pulang? Yaitu ketika malaikat berbisik lembut, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)

Semoga kita termasuk Hamba-Nya yang mendapat petunjuk untuk senantiasa beramal dengan ikhlas dan benar. Wallahu a’lam.

——
“Ya Allah jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya dan sebaik-baik amalku pada akhir hayatku, dan (jadikanlah) sebaik-baik hariku yaitu hari ketika aku bertemu dengan-Mu (di hari kiamat)” (H.R. Ibnus Sunny)

©Fajr Studio
Masjid Mardliyyah UGM

Ikuti akun Masjid Mardliyyah UGM:
🖥 facebook.com/FOSDAMMrdliyyah/
🎥 youtube.com/c/MasjidMardliyyahUGM
📷 instagram.com/mmardliyyahugm/
🎙 t.me/mmardliyyahugm
📲 line.me/R/ti/p/%40nsb2585g
🌐 mardliyyahugm.com
📞 081225334282

#MenjedaSejenak #MMmenjedasejenak #FajrStudio #MasjidMardliyyahUGM #februari2019 #thebestwork #amalanterbaik #istiqomah #tauhid #indonesiabertauhid #inkscapefordawah #motivasiIslam #nasehat #posternasehat #flatdesign #graphicdesign #design #illustration

Posted in Artikel Fajr Studio, Menjeda Sejenak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *