WR (28) : Masjid Nurul Ashri

Pekan ini kita menjelajahi sebuah masjid yang tidak kalah “tua” usianya dengan Masjid Pogung Dalangan. Masjid ini bernama Masjid Nurul Ashri. Sebuah masjid yang terletak di Kompleks Perumahan UNY daerah Deresan, Caturtunggal, Depok, Sleman. Masjid ini dibangun tahun 1976. Pembangunan masjid ini dilakukan beberapa saat setelah Kompleks Perumahan UNY dibangun sehingga masih sepi, kumuh, dan belum ada listrik. Penamaan masjid ini diambil ketika digunakan secara resmi untuk pertama kalinya, yaitu saat berjamaah salat Ashar. Saat itu, Kyai H. Mathori Alhuda, pengisi pengajian setelah salat Ashar mengusulkan memberi nama “nurul ashri” untuk masjid ini karena memiliki arti “cahaya di waktu Ashar”.Serupa dengan Masjid Pogung Dalangan, Masjid Nurul Ashri juga beberapa kali melakukan pembangunan dan perluasan. Pembangun ulang pertama dilakukan pada tahun 1980-an menjadi sebuah gedung permanen. Hal ini dilakukan karena jumlah jamaah yang semakin banyak. Lalu pada tahun 2001, masjid ini mengalami perluasan yang mengakibatkan bentuk masjid sebelumnya sudah hampir tidak tampak lagi. Sebab, semenjak perluasan, masjid ini sudah berlantai dua dan luasnya sekitar 500 meter persegi atau 20m x 30m. Namun, 12 tahun kemudian, akibat jumlah jamaah yang semakin padat, masjid ini kembali diperluas setelah memperoleh tanah seluas 330 meter persegi. Semenjak perluasan kedua kalinya ini, kapasitas masjid ini untuk menampung jamaah pun semakin banyak. Pada lantai satu dapat memuah sekitar 1000 jamaah, sementara pada lantai dua dapat memuat sekitar 800 jamaah.

Semenjak perluasan juga, Masjid Nurul Ashri memiliki bangunan yang cukup megah dengan karpet yang memenuhi ruang salat lantai pertama masjid. Plus disertai pendingin ruangan yang menyejukkan. Tidak heran jika banyak jamaah yang betah untuk salat atau mengikuti kegiatan di masjid berbentuk kotak ini. Dominasi warna hijau terlihat dari dinding serta tiang di masjid ini. Kalau dicermati, atap masjid ini tidak langsung ditutupi dengan genting, tetapi ada beberapa ruangan kecil serta menara kecil berwarna hijau dengan hiasan bulan sabit dan bintang.

Bukan hanya itu, hal menarik lainnya terlihat dari kamar mandi dan tempat wudhu yang berada di basement. Alasan pembuatan kamar mandi dan tempat wudhu di basement ini akibat tanah yang terbatas dan harga tanah yang semakin mahal. Namun, hal tersebut justru menambah nilai plus masjid ini, terutama bagi jamaah perempuan karena dapat berwudhu dengan tenang tanpa khawatir auratnya terlihat oleh jamaah laki-laki. Selain itu, jumlah kran di tempat wudhu masjid ini begitu banyak sehingga jamaah tidak perlu mengantre panjang untuk berwudhu.

Saat ini, Masjid Nurul Ashri menjadi salah satu masjid yang ramai di Yogyakarta. Bukan hanya bangunannya yang dapat menampung banyak jamaah, melainkan karena banyak kegiatan di masjid ini. Terutama kajian keislamanan. Awal-awal berdiri, masjid ini masih didominasi kaum tua. Hal dikarenakan oleh letak masjid yang berada di kompleks pensiunan dosen dan karyawan UNY. Namun, sejak tahun 2010, takmir masjid ini mulai menyelenggaran program Kampung Quran Ramadhan (KQR) yang dimotori oleh mahasiswa yang tinggal di sekitar Deresan. Berawal dari program inilah, pada tahun 2011 takmir masjid mulai membentuk Lembaga Kajian Muslim (Kamus) yang berfungsi untuk menyelenggarakan kajian keagamaan dan kegiatan sosial. Seperti kajian sore yang diadakan setiap hari, kajian-kajian insidental, pelayanan kesehatan, bakti sosial dan bazar di desa-desa pelosok Yogyakarta, penggalangan dana, malam bina takwa (mabit) dan sebagainya.

Peran Masjid Nurul Ashri semakin terasa besar manfaatnya dan semakin makmur setelah hadirnya PPTQ SahabatQu yang didirikan di sekitar masjid. Tidak heran jika masjid ini selalu ramai dengan kehadiran anak-anak–santri PPTQ SahabatQu–yang menghafal Alquran. Selain itu, PPTQ SahabatQu juga beberapa kali mengadakan program belajar LQA (Learning Quran for All) di masjid ini. Hadirnya masjid ini dan PPTQ SahabatQu juga berdampak kepada lingkungan Deresan yang semula dikenal karena banyak orang yang “deres” nira pohon kelapa, sekarang menjadi tempat untuk tadarrus Alquran.




Referensi:
● Admin. Sejarah. http://masjidnurulashri.id/index.php/public/page/sejarah-2. Diakses pada tanggal 1 Maret 2019 pukul 19.26 WIB.
● Handayani, Sri. 2016. Kajian Masjid Nurul Ashri Yogyakarta: Taat Tanda Keimanan. https://republika.co.id/…/o1ce46-kajian-masjid-nurul-ashri-…. Diakses pada tanggal 1 Maret 2019 pukul 19.13 WIB.

Pict by : Masjid Nurul Ashri Deresan

©Fajr Studio
Masjid Mardliyyah UGM
.
Ikuti akun Masjid Mardliyyah UGM:
🖥 Masjid Mardliyyah UGM
🎥 youtube.com/c/MasjidMardliyyahUGM
📷 instagram.com/mmardliyyahugm/
🎙 t.me/mmardliyyahugm
📲 line.me/R/ti/p/%40nsb2585g
🌐 mardliyyahugm.com
📞 081225334282

#WisataReligi #MMWisataReligi #maret2019 #Masjidjogja #FajrStudio #MasjidMardliyyahUGM #masjidnurulashri #masjidderesan #backtomasjid #WisataJogja #explorejogja #mosqueoftheworld #architecture #mosquetraveler #indonesianmosque #kelilingmasjid #masjidindonesia #design #graphicdesign

Posted in Reportase, Rihlah, Wisata Religi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *